Belajar Ikhlas dari Kisah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar di Tanah Tandus

WUKUF kepanasan, di atas pasir bebatuan. Bemalam di Muzdalifah, seperti para nafi yang sedang menunggu untuk mendapatkan pengampunan. Buat apa kita berjalan setelah tengah malam, dari Muzdalifah ke Mina, lalu jumrah, tawaf dan sa’i? Sungguh melelahkan ibadah ini.

Buat apa bermalam di Mina seperti layaknya para gembel yang hidupnya tak menentu dan bagaikan orang yang hidup tanpa tujuan? Itulah ibadah haji, yang Allah ajarkan kepada Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar agar belajar ikhlas.

Siti Hajar protes. Mengapa suaminya meninggalkan dia dan anaknya yang masih kecil di padang pasir tak bertuan? Suami yang dikenal santun, penyayang dan berhati lembut ini, tidak sewajarnya melakukan tindakan aneh itu.

Hajar mengejar Ibrahim, suaminya, dan berteriak, “Mengapa engkau tinggalkan kami di sini?” Berkali kali dia ucapakan sementara Ibrahim terus melangkah meninggalkan keduanya. Tanpa menoleh. Tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh. Remuk redam perasaannya terjepit antara pengabdian dan pembiaran.

Hajar masih terus mengejar sambil menggendong Ismail, hingga dia tersadar untuk mendapat jawaban suaminya maka kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit, “Apakah Allah yang perintahkan kamu seperti ini?”

Kali ini Ibrahim, sang khalilullah, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim.

Baca Juga :  Denda Tak Ikut Kerja Bakti

Butir pasir seolah terpaku kaku. Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan, atau lebih tepatnya gugatan Hajar membuat semua terkesiap. Ibrahim membalik tubuhnya, dan berkata tegas, “Iya!” Ini perintah Allah. …….

Hajar berhenti mengejar. Dia terdiam. Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang mengagetkan semuanya: malaikat, butir pasir dan angin.

“Jikalau ini perintah dari Allah, pergilah, tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir. Allah pasti akan menjaga kami.”

Ibrahim pun beranjak pergi. Dilema itu punah sudah. Ini sebuah pengabdian, atas nama perintah, bukan sebuah pembiaran.

Peristiwa Hajar dan Ibrahim ini adalah romantisme keberkahan. Itulah ikhlas. Ikhlas adalah wujud sebuah keyakinan mutlak pada Sang Maha Mutlak.

Ikhlas adalah kepasrahan bukan mengalah apalagi menyerah kalah. Ikhlas itu adalah engkau sanggup berlari melawan dan mengejar, namun engkau memilih patuh dan tunduk.

Ikhlas adalah sebuah kekuatan menundukkan diri sendiri dan semua yang engkau cintai. Ikhlas adalah memilih jalan-Nya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain. Ikhlas bukan lari dari kenyataan. Ikhlas bukan karena terpaksa.

Ikhlas bukan merasionalisasi tindakan, bukan mengalkulasi hasil akhir. Ikhlas tidak pernah berhitung kerugian dan pengorbanan. Ikhlas tak pernah pula menepuk dada.

Ikhlas itu tangga menuju kesuksesan hidup dan kemlyaan jati dirinya. Ikhlas itu mendengar perintah-Nya dan menaati-Nya. Ikhlas adalah ikhlas. Titik.

“Belum cukupkah engkau memahami apa itu ikhlas dari diamnya Hajar dan perginya Ibrahim?” Padahal Hajar adalah seorang wanita, tetapi dia tidak ribet di mana kita.

Baca Juga :  Jejak Regulasi Keterbukaan Informasi Publik di Banten

Alam semuanya tertunduk pasrah bersama malaikat, butir pasir dan angin. Ayo kita belajar dengan haji ini menemui jati diri kita sejatinya. Karena setelah bertaubat di Arafah sejatinya hidup kita lebih baik dari sebelumnya……..

Arab Saudi, 13 Dzulhijah 1437 H

Ahmad Salimin Dani
*Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Bekasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *