Berdamai dengan Rob Pantai Utara Tangerang

bantenproNews – Seorang bocah menarik benang layang-layang di tengah jalanan yang tergenang air. Kakinya terendam limpasan air laut. Rob, demikian warga setempat menamakan limpasan air laut, adalah hal biasa dan risiko yang harus dihadapi warga di pesisir utara Kabupaten Tangerang.

“Sudah biasa,” kata bocah tersebut sambil berlari kecil menerbangkan layangannya, Jumat (12/11/2021) menjelang petang.

Bocah lainnya, Rani (11), memilih tempat yang agak kering untuk bermain layang-layang. Tanah bekas bangunan tempat Rani berpijak juga dikelilingi limpasan air laut. Bahkan sejauh mata memandang, air laut memenuhi jalan-jalan di lokasi padat penduduk tersebut.

Bagi Rani, genangan air laut menjelang petang itu sudah lebih bersahabat daripada pagi hingga siang tadi. Karenanya, dia dan teman-teman sebayanya bisa bermain meski di tengah limpasan air laut.

Di kala pagi, rob bisa mencapai setinggi setengah meter. Rani yang masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar itu sudah empat hari ini pergi ke sekolah dengan menerobos banjir setinggi pinggangnya.

“Iya aku tetap sekolah, mau gimana lagi. Ya terobos aja banjirnya, sudah biasa,” kata dia kepada wartawan, Jumat (12/11/2021).

Bahkan pada hari pertama rob, kata Rani,  limpasan air laut sampai masuk menggenangi rumahnya. Rani yang sudah hapal kondisi itu pun menyelamatkan buku-buku pelajarannya.

“Buku-buku pelajaran aku masukin plastik terus ditaruh di atas lemari,” paparnya.

Baca Juga :  Rapuh dan Akhirnya Jebol, Satu Lagi Pintu di Bendungan Sarakan Rusak

Dia dan keluarganya tidak pernah mengungsi ke tempat lain ketika banjir rob merendam rumah. Mereka tetap bertahan di dalam rumah bilik panggung itu.

“Air naiknya itu pagi, nanti sore itu surut. Sama kayak yang sekarang nih, udah seminggu begitu,” kata Rani.

Rob telah melanda wilayah Kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang sejak Kamis pekan lalu. Sebanyak 2.739 keluarga di wilayah itu terdampak.

Warga lainnya bernama Chaerudin (60) mengaku sudah tinggal di wilayah itu sejak 1982. Kata dia, pertama kali rob melanda permukiman warga Dadap pada 2001.

“Banjir sewajarnya itu mulai tahun 2001, nah mulai parahnya tahun 2010,” jelasnya.

Menurut Chaerudin, permukaan tanah di lingkungannya terus mengalami penurunan sedalam 5 sentimeter tiap tahunnya akibat abrasi laut.

“Diprediksi sama peneliti dari Bandung itu ketinggian tanah turun 5 centi tiap tahunnya. Rumah lama saya itu tinggal setengah bangunan,” jelasnya.

Dahulu, Chaerudin berprofesi sebagai pengepul ikan laut untuk didistribusikan ke restoran-restoran di sekitar Dadap. Namun, satu per satu restoran itu gulung tikar karena rob dan membuat Udin beralih profesi sebagai penjual warung kelontong.

“Kalau dulu saya tukang pengepul ikan, sekarang ya begini buka warung kelontong. Tempat makan sudah pada bangkrut semua,” paparnya.

Kondisi Dadap dahulu bukanlah seperti yang sekarang. Kata Chaerudin, dahulunya Dadap dikenal sebagai tempat wisata kuliner bagi penggemar masakan ikan laut.

Baca Juga :  Pinang Griya Terendam Banjir, Tanggul Jebol Ditambal Karung Tanah




“Di sini jaya-jayanya itu tahun 1990-an banyak usaha kuliner, usaha apa aja maju. Di sini kan dulu terkenalnya gara-gara udangnya,” kata Udin.

Wilayah Kelurahan Dadap juga sempat diramaikan oleh kafe-kafe dan tempat karaoke. Suasananya mirip di Kalijodo, Jakarta Utara. Tetapi karena kebijakan pemerintah, kafe-kafe dan tempat karaoke itu akhirnya digusur.

Saat masuk ke dalam permukiman, terlihat sejumlah bangunan kosong yang sudah tidak layak huni. Tak hanya itu, banyak juga bangunan yang runtuh dan tinggal menyisakan bentuk bangunan saja.

Kata Chaerudin, rumah tersebut dulu berpenghuni namun ditinggal begitu saja oleh penghuninya. Diakuinya, rumah yang berdiri di dekat laut itu bukan berdiri di atas lahan pribadi. Melainkan dibangun di atas tanah garapan.

Chaerudin adalah satu dari ribuan jiwa warga yang masih bertahan di kawasan langganan banjir laut. Mau tak mau, dia pun harus rela berdamai dengan rob. (mst/bpro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *