Sehimpun Tulisan Wartawan Penderita Stroke, #Yuk Beli Bukunya Menggema

Tak sedikit orang diterpa sakit, lalu mentalnya ambruk. Tapi tidak dengan saya. Di sela-sela sakit stroke yang pertama tahun 2015 lalu, saya tetap aktif sebagai wartawan dan bahkan sempat mendongeng keliling ke berbagai provinsi membawa program “Sedekah Dongeng Keliling Nusantara”. Pada stroke yang kedua tahun 2020, saya juga tetap berkarya, seperti menulis puisi, cerpen, dongeng, kisah keteladanan, dan esai ringan, atau menjadi narasumber tentang mendongeng dan jurnalistik.

Itulah sepenggal kalimat pembuka yang ditulis Budi Sabarudin di bagian depan buku berjudul Si Lidah Emas Dirampok Begal. Buku itu tebalnya 167 halaman. Semua isinya merupakan buah pikiran Kang Budi-sapaan akrab Budi Sabarudin. Ada kumpulan puisi, dongeng, cerita pendek hingga kisah keteladanan.

Seperti yang ditulis pada opening lines buku tersebut, Budi menulis dan menyelesaikan buah pikirannya di tengah perjuangan melawan stroke yang diderita. Menulisnya pun hanya dengan satu jari telunjuk kanan.

“Saya ingin menunjukkan kepada orang-orang yang didera sakit stroke atau sakit apa pun itu, selama penyakit itu ada peluang untuk disembuhkan, jangan mau kalah oleh penyakit. Jangan mau didikte oleh penyakit. Berjuang untuk sembuh agar bisa beribadah secara normal, agar hidup juga normal kembali,” tulis Budi dalam bukunya.

Hasil memang tak mengkhianati usaha dan doa. Dukungan keluarga, sahabat dan sejawat, menambah semangat Budi dalam berkarya. Buku Si Lidah Emas Dirampok Begal yang dicetak melalui penerbit Yayasan Artbound Indonesia Raya habis terjual.

Budi kemudian meminta penerbit untuk mencetak ulang karena banyak kolega maupun kenalannya yang memesan. Buku cetakan kedua kini siap diedarkan.

Budi dikenal sebagai wartawan senior di Banten. Banyak wartawan yang simpati kepadanya. Sejawatnya kemudian menggemakan gerakan Peduli Budi Sabarudin, 2 Kali Stroke, #Yuk Beli Bukunya.

Munir, inisiator gerakan tersebut mengatakan, gerakan ini murni gerakan moral mengajak masyarakat luas peduli dengan hasil karya wartawan penderita stroke.

“Saya mengajak berbagai kalangan peduli Budi Sabarudin. Gerakan ini murni kemanusiaan. Siapa pun bisa sakit. Karena itu kita harus membantu yang sakit seperti Kang Budi ini,” kata Munir, Sabtu (26/03/2022).

Munir menjelaskan, gerakan Peduli Budi Sabarudin bukan gerakan menghimpun dana. Tetapi mengajak masyarakat luas peduli membantu sesama dengan cara membeli buku karya Budi Sabarudin sekaligus membangun budaya literasi. Buku Si Lidah Emas Dirampok Begal ini bisa dipesan dengan menghubungi nomor kontak 087883036184.

“Mudah-mudahan cara seperti ini dapat membantu Budi tetap berkarya dan sehat lagi,” kata wartawan Forum Keadilan ini.

Budi kini sedang menjalani perawatan di Bandung, sehingga dia tidak bisa bekerja lagi sebagai wartawan. Dahulunya, dia merupakan bagian dari keluarga besar Grup Pikiran Rakyat. Budi bekerja di Harian Umum Kabar Banten selama 10 tahun sejak 2000.

Pria kelahiran 1966 itu kemudian bekerja di Koran Tangsel Pos (Grup Jawa Pos) hingga kemudian sebelum terserang stroke dia terakhir aktif mengelola sebuah media siber di Banten. (mst/bpro)